Myjojofan's Weblog

Semoga membuat kehidupan kita lebih bermakna

Dari budaya lama ke budaya tertib lalu lintas

Posted by myjojofan pada 27 Januari 2011

Makin hari makin terasa semrawutnya lalu lintas, salip-menyalip, tidak jaga jarak aman. Kenapakah ?

Tahun lalu tercatat jumlah sepeda motor baru (yang dibeli selama 2010) mencapai 7 juta unit lebih, katanya naik 20% lebih dibanding tahun 2009. Sementara di tahun-tahun sebelumnya jumlah sepeda motor baru juga bertambah jutaan unit tiap tahunnya.

Siapa saja ya pembeli sepeda motor baru ???

Apa mereka pemilik motor lama yang upgrade ke motor baru ???

Atau mereka benar-benar untuk pertama kalinya memiliki dan mengendarai sepeda motor baru ???

Apa mereka benar-benar dulunya naik kendaraan umum (angkot, bemo, bus),  tinggal duduk diam karena ada sopir yang trampil mengendalikan kendaraan umum. Jadi tidak perlu pusing bagaimana cara menyetir kendaraan.

Apa mereka  benar-benar dulunya terbiasa naik sepeda, dengan kecepatan tidak tinggi, sulit melaju di tengah jalan atau lajur kanan ? Sehingga mereka dulu terbiasa mengendara sepeda di lajur kiri.

Apa mereka dulunya hanya sebagai pembonceng, ada sanak keluarganya yang menyetir motor. Lalu sekarang mereka bisa beli sendiri dan baru belajar menyetir sendiri ?

Entah siapa saja jutaan bahkan puluhan juta pemilik motor baru itu.

Tapi pastilah SEBAGIAN DIANTARANYA BENAR-BENAR BARU PERTAMA KALI MENYETIR SEPEDA MOTOR SENDIRI ! ! !

Pastilah sebagian di antaranya belum tahu jelas aturan-aturan berkendara sepeda motor, belum tahu bagaimana harus bersikap di jalur lambat, jalur cepat, jalur khusus mobil, jalur busway, dsb.

Pastilah sebagian di antaranya belum tahu bagaimana membatasi kecepatan motornya untuk batas aman, bagaimana menjaga jarak aman terhadap kendaraan lain, kapan boleh berbelok memotong mobil yang sedang berhenti di kemacetan, kapan boleh menyusup dengan laju di antara dua barisan panjang mobil-mobil dimana sewaktu-waktu ada juga motor yang memotong antar baris !

Bahkan sebagian di antaranya mungkin golongan pekerja-pekerja informal, mulai dari abang sayur, penjaga toko, pembantu rumah tangga, tukang cukur, dan aneka profesi lain yang tak terjamah oleh pendidikan intensif dan memadai; termasuk juga tak terjamah oleh etika dunia modern, sopan santun di tempat ramai, dsb.

Atau ada juga yang golongan formal seperti karyawan pabrik, kepala bagian, dsb yang mungkin juga dulunya tidak menyetir sendiri dan sekarang “belajar” menyetir sendiri tanpa mendapat “sekolah menyetir” !

Coba kita bayangkan, puluhan juta sepeda motor dengan ukuran mesin cukup besar, mampu melaju puluhan sampai 100 Km per jam – semuanya lalu lalang di jalanan dengan bebas – dikendarai masyarakat dengan beraneka macam kesiapan mental, etika, budaya. Heemmmm mungkin jadinya sangat ramai dan meriah ! ! ! Dan mungkin makin hari makin rumit lalu lintasnya, makin tinggi resiko kecelakaannya, dan entah makin apa lagi . . .

Apa sudah waktunya ada “sekolah mengemudi” yang DIWAJIBKAN bagi yang mengambil atau memperpanjang SIM ? ? ?

Dimana sekolah itu bukan hanya mengajarkan rambu lalu lintas dan denda-dendanya, tapi mengajarkan berbagai perilaku yang diharapkan ada, juga mengajarkan berbagai perilaku yang tidak diharapkan muncul dengan segala akibat dan resikonya.

Dimana sekolah itu mengajarkan berbagai hal selain teknik mengemudi –  melainkan membentuk karakter dan perilaku calon-calon sopir sepeda motor itu – dimana mereka bisa menghargai keselamatan sendiri, keselamatan penumpang / pembonceng, dan keselamatan pemakai jalan lain termasuk pejalan kaki.

Dimana sekolah itu tersedia di berbagai jam, sehingga tidak mengganggu jam kerja “murid-murid” nya. Ada kelas pagi bagi yang bekerja siang atau malam, ada kelas siang bagi yang bekerja malam atau pagi, ada kelas malam bagi yang bekerja pagi sampai sore. Sehingga memudahkan pembentukan masyarakat tertib berlalu lintas – yang sangat mungkin mempengaruhi perilaku sehari-hari kita semua !

Perlu direnungkan sejenak, cukupkah hanya ikut ujian pengambilan SIM ? membebaskan begitu banyak manusia dengan berbagai perilakunya, diharapkan bisa auto didak alias bisa belajar dan pintar sendiri ?

Aah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali . . .

Salam

MYJOJOFAN HOME

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: